Selasa, 06 Juni 2017

The Ahok Effect : Tuhan Akrab dengan FPI


Front Pembela Islam (FPI) merupakan sebuah organisasi yang hadir dengan sentuhan keagamaan yang sangat kental, mulai dari seragam sampai teriakan, mulai dari paradigma pengikut setia sampai masyarakat yang hanya sekadar ikut-ikut atas nama agama. 
Beribicara tentang agama maka tak bisa lepas dari Tuhan, sebab tanpa Tuhan apalah arti agama. Berangkat dari pendapat itulah saya secara pribadi ingin menyampaikan bahwa setiap tindakan yang mengatasnamakan  agama sama halnya melibatkan pula Tuhan dalam tindakannya.
Dalam sebuah rilis Metrotvnews.com (13 Nov 2014) memberikan kita ingatan tentang apa saja dan bagaimana FPI memposisikan Tuhan dalam setiap tindakannya. Tenutu kita ingat betul dimana pada 20 April 2003, Rizieq ditahan karena dianggap menghina kepolisian lewat dialog di SCTV dan Trans TV.
Ia sempat dibawa kabur pendukungnya, tapi akhirnya divonis tujuh bulan kurungan. Hal yang sama juga terjadi pada 21 Mei 2006, FPI menyegel kantor Fahmina Institute di Cirebon, yang menolak RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Selanjutnya,  12 April 2006, Massa merusak kantor Majalah Playboy Indonesia di Gedung ASEAN Aceh Fertilzer. Mereka menghancurkan kaca-kaca gedung akibat dari aksi itu tercatat dua anggota polisi terluka.
Catatan lain  menyebutkan bahwa, pada 28 September 2007, Ratusan anggota FPI bentrok dengan polisi saat personel Polres Jakarta Pusat membubarkan konvoi sepeda motor sekitar 600 anggota FPI, hal ini dikarenakan FPI melakukan konvoi tak berizin.
Saya tak perlu banyak catatan untuk saya paparkan bagaimana FPI dalam sejarah, singkat cerita saya ingin membuat sebuah kesimpulan bahwa dahulu berdasarkan catatan-catatan tersebut maka kita juga bisa melihat bagaimana FPI dalam pandangan masyarakat itu sendiri.
Catatan-catatan itu juga menjadi dasar bahwa saat itu sikap FPI dianggap tak sejalan dengan kalangan mayoritas, sehingga kutukan diberbagai penjuru bahkan masyarakat cenderung alergi dengan sikap FPI dahulu kala, sehingga saya melihat bahwa  FPI dulu dianggap jauh dari Tuhan itu sendiri, sebab kekerasan atas nama apapun tidak dibenarkan oleh penganut agama  manapun itu juga, perang dalam agama Islam atas dasar diperangi bahkan dalam persolan konflik Islam secara tegas mempunyai solusi yaitu tabayyun,mengajak kita untuk berdialog terlebih dahulu.
Bahkan diawal-awal Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memimpin DKI Jakarta FPI sudah melakukan aksi tandingan dengan ide yang luar biasa yaitu mengancam membuat Gubernur tandingan atas nama agama, tetapi ide gila itu justru tak mendapat dukungan dari mayoritas umat Islam di DKI Jakarta.
Namun semua itu berubah sejak dipidanakannya Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ke pengadilan dengan pasal penodaan agama, saat-saat itulah FPI dianggap yang paling berjasa dalam menjebloskan Ahok kepenjara, masyarakat melihat FPI kini berganti kelamin dimana FPI dulu  wajah mereka yang keras menjadi terlihat manis dengan mengelola kasus Ahok ini lebih menggunakan metode tangan dingin walaupun ada panas-panasnya namun itu tidak terlihat.
Sehingga munculah sekelompok masyarakat yang bukan FPI, tetapi berparadigma bahwa Tuhan akrab dengan FPI. Kelompok ini cenderung mengagalkan aksi perubahan FPI yang ingin tampil manis, lihat saja berbagai kasus  akhir-akhir ini dimana tindakan persekusi makin ramai dilakukan sekelompok warga terhadap orang yang dianggap telah menghina atau menista pemimpin dan kelompok FPI.
Sehingga apapun yang berhubungan dengan FPI sudah seperti perintah langsung dari Tuhan, harus dan segera dilaksanakan serta hukumnya wajib ditinggalkan berarti berdosa. Kita tentunya menyadari betul munculnya simpatisan FPI ini adalah bagian dari The Ahok Effect bahkan FPI dengan percaya diri mengatakan akan menutup jalan ke bandara.
Bahkan Tribunnews.com memuat berita tersebut dengan judul “Wah, Rizieq Pulang FPI Mau Tutup Jalan ke Bandara”, ini tentunya aneh tetapi nyata dibalik kehidupan berbangsa dan bernegara kita. FPI menyadari betul jika kelompok warga ini (simpatisan FPI) kapan saja bisa dipakai untuk mengatasnamakan umat Islam secara universal sehingga ajakan untuk menutup jalan bahkan semua terminal tentunya akan berpotensi kepada Bandara Soekarno Hatta bukanlah hal yang musthail, hal ini bisa saja terjadi FPI bisa saja tutup semua jalan di DKI Jakarta dan mendapat dukungan penuh dari kalangan yang menganggap FPI akrab dengan Tuhan.
Hal ini bukan berarti pula saya memperkeruh susana, saya cuma mengingatkan bahwa FPI kini dianggap akrab dengan Tuhan sehingga segala jalan yang di tempuh FPI akan mendpat dukungan dari simpatisan FPI.
Lihat saja aksi mengintimidasi atau persekusi jelas-jelas  sangat mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi di Indonesia, bahkan cara-cara ini merupakan tindakan yang tidak manusiawi dengan tujuan menimbulkan penderitaan psikis dan fisik sehingga tidak dapat dibenarkan oleh siapapun.
Tetapi lihat saja apakah setelah peristiwa tersebut  ada kutukan dari kalangan yang sama, tidak kalaupun ada tak lain dan tak bukan jika  NU dengan organisasi sayapnya mulai dari PMII sampai GP Ansor, sementara dikalangan lain melihat bahwa jika mereka mengutuk aksi tersebut maka sama saja mereka membiarkan adanya penghinaan terhadap kekasih-kekasih Tuhan yang gigih dalam berdakwah.
Singkat cerita, sudah banyak catatan kelam dari FPI maka tak ada kata lain selain “Bubarkan FPI”, sebab FPI sudah menjadi ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahkan FPI saat ini menjadi kata kunci utama setelah Ahok dihukum,  FPI kini adalah persolan dasar dari semua persolan yang dihadapi oleh bangsa ini.
Kasus balada cinta Rizieq mampu mempengaruhi opini masyarakat untuk bertindak diluar aturan dan hukum yang berlaku bahkan cenderung tidak memanusiakan manusia, padahal persolan ini bukan persoalan besar bagi bangsa namun menjadi besar ketika seorang Rizieq yang juga nahkoda FPI cenderung bernyali kecil padahal Rizieq baru saja berkoar sana-sini tegakan hukum, tetapi paradigma Tuhan akrab dengan FPI suda terlenjur menempel dalam benak simpatisan FPI sehingga FPI akan berbuat apa saja untuk membenarkan tindakan Rizieq yang melawan hukm.
Intinya adalah dimana ada FPI distulah keputusan Tuhan. Padahal mereka lupa jika Rizieq juga manusia sama dengan kita yang sama-sama mempunyai potensi melakukan dosa, tetapi bedanya kita juga berani mengakui jika itu dosa kita sementara Rizieq  ya begitulah kura-kura.
Berbicara FPI memang tak ada habisnya, ketika kita semua sudah bosan untuk membahas FPI secara rasional dan cenderung pasrah pada keadaan maka disaat itulah kita sudah siap untuk bertanda tangan di atas meterai 6000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar